simpatisan smada
Rabu, 23 Januari 2008
Unas dan Forum Musyawarah Guru
Oleh: Abdulloh Syifa’
Jawapos: Rabu, 23 Jan 2008

Di antara berbagai kebijakan Departemen Pendidikan Nasional, ujian nasional (unas) adalah topik yang paling kontroversial dan paling sering diperdebatkan dalam dunia pendidikan di tanah air. Pro dan kontra selalu mengiringi pelaksanaan unas setiap tahunnya. Mereka yang pro-unas beranggapan bahwa tes yang terstandar sangat diperlukan untuk mengetahui tingkat kualitas hasil pendidikan. Selain itu, dengan adanya unas, siswa diharapkan lebih termotivasi untuk belajar.


Dengan kata lain, unas diharapkan bisa menjadi faktor pemicu (triggering factor) peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Lebih dari itu, unas merupakan amanat UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.

Sementara itu, mereka yang kontra unas beranggapan tidak fair memberikan ujian berstandar nasional kepada semua siswa. Sebab, perlakuan dan fasilitas yang diberikan kepada siswa ketika mengikuti proses pembelajaran dalam mempersiapkan diri mengikuti unas tidak sama. Baik antara satu sekolah dengan sekolah lain maupun antara satu daerah dengan daerah lain. Jadi, mengapa mereka harus mengikuti tes yang sama?

Di samping itu, beberapa fakta menunjukkan bahwa unas, dalam beberapa hal, memberikan dampak buruk pada proses pembelajaran. Guru akan lebih sibuk men-drill siswa-siswinya mengerjakan soal-soal unas daripada membelajarkan mereka. Guru merasa tidak mempunyai cukup waktu untuk mengontekstualkan pembelajaran di kelas dan menjadikan siswa sebagai pembelajar mandiri yang dengan itu siswa akan merasakan kebermaknaan belajar. Dan yang lebih parah lagi, dengan membabi buta guru akan membantu siswanya untuk bisa berhasil dalam unas, walau dengan tebusan yang sangat mahal: lenyapnya kejujuran dan dianggap sahnya kecurangan.

Semua proses yang antipedagogi itu didorong pula oleh sikap orang tua dan masyarakat yang menganggap hasil unas sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan pendidikan, yang menganggap produk lebih penting daripada proses. Sebaik apa pun proses pembelajaran di kelas, kalau hasil unasnya jeblok, sekolah itu dianggap gagal. Kalau kondisinya menjadi demikian, tak salah bila Margareth Meid, antropolog Amerika, dengan sinis menyindir, "Karena aku ingin cucuku memperoleh pendidikan, aku laranglah dia pergi ke sekolah."

Fenomena homeschooling yang makin populer di kalangan masyarakat adalah salah satu respons masyarakat terhadap terpuruknya sistem pendidikan kita.

Kalau sudah begini, apa yang bisa dilakukan? Seperti dikatakan pakar pengajaran bahasa Douglas H. Brown bahwa desain tes yang baik adalah tes yang akan mendorong guru untuk melaksanakan proses pembelajaran yang baik dan bermakna bagi siswa. Bila kita merujuk pendapat itu, terlihatlah bahwa desain unas selama ini kurang (baca: tidak) efektif untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Hal tersebut juga menjadi alasan kenapa guru yang sudah mengikuti pelatihan puluhan kali, ketika sudah berada di depan kelas, akan kembali ke selera asal, yakni mengesampingkan hasil pelatihan dan mengajar demi mempersiapkan siswa meraih nilai yang setinggi-tingginya dalam unas.

Meski demikian, mengubah desain unas seperti yang sekarang tidaklah mudah karena akan menjadi tidak praktis dan memerlukan dana yang sangat besar. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah meminimalkan dampak negatif (negative backwash) dari unas. Di sinilah letak peran strategis dari forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau forum guru. Di dalam forum MGMP, tempat berkumpul guru-guru mata pelajaran sejenis dari seluruh sekolah, bisa didiskusikan langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk merencanakan pembelajaran yang baik di kelas tanpa harus takut siswanya gagal dalam ujian nasional. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam forum MGMP tersebut adalah memantapkan fondasi pedagogis para guru, memantapkan pemahaman guru tentang karakteristik mata pelajaran yang diajarkan, memperkaya guru dengan model-model pembelajaran yang inovatif, dan membekali guru tentang cara penilaian yang bermakna bagi siswa.

Fondasi pedagogis sangat penting karena praksis pengajaran di kelas pada dasarnya merupakan pengejawantahan konsep atau teori pedagogi yang dianut. Salah satu pilar pendidikan kesejagatan yang disodorkan UNESCO adalah learning how to learn, yakni belajar bagaimana belajar. Maksudnya, proses pembelajaran di kelas hendaknya akan membuat siswa menjadi pembelajar mandiri sehingga pembelajaran sepanjang hayat (lifelong education) bisa terwujud.

Dalam forum MGMP, guru-guru, sesuai karakteristik mata pelajaran masing-masing, bisa mendiskusikan pembelajaran yang mengaktualisasikan konsep pedagogi itu. Kalau siswa bisa menjadi pembelajar mandiri, tidak ada yang perlu ditakutkan dengan ujian nasional.

Pemahaman karakteristik masing-masing mata pelajaran juga sangat penting. Dengan memahami karakteristik mata pelajaran, guru akan bisa membelajarkan siswa dengan baik. Sebagai contoh, dalam pelajaran bahasa, sebenarnya tugas guru adalah mengembangkan keterampilan berbahasa siswa. Dengan demikian, kalau mereka telah dengan konsisten mengembangkan keterampilan berbahasa siswa, mereka tidak perlu lagi merasa takut siswanya akan gagal dalam ujian nasional. Karena kalau keterampilan berbahasa itu telah benar-benar dikuasai siswa, diberi soal jenis apa pun dia akan mampu mengerjakannya. Yang terjadi sekarang ini adalah karena guru takut siswanya gagal dalam unas, mereka men-drill siswa dengan soal-soal unas dan tidak lagi mengajar sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diajarkan.

Memperkaya guru dengan model-model pembelajaran yang inovatif adalah salah satu hal yang mutlak dilakukan di dalam forum MGMP. Diakui atau tidak, masih banyak guru yang miskin dengan model-model pembelajaran inovatif yang bisa memotivasi siswa untuk belajar dan mengarahkan mereka menjadi pembelajar mandiri. Ketika guru dari seluruh sekolah berkumpul, sharing model pembelajaran akan terfasilitasi.

Last but not the least, di dalam forum MGMP layak didiskusikan model-model penilaian bermakna bagi siswa atau penilaian yang otentik. Karena bila penilaian yang diberikan otentik, siswa akan menemukan makna belajar di kelas. Di sini guru bisa berwacana sambil sesekali berandai-andai kalau saja desain ujian nasional adalah penilaian otentik, alangkah nyamannya menjadi guru yang bisa mengajar tanpa perlu ketakutan. (*)

Abdulloh Syifa’
Guru SMP 4 Jombang

Label: ,

posted by simpatisan smada @ 07.41  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
About Me

Name: simpatisan smada
Home: Indonesia
About Me: Lokalisasi online para simpatisan Smada Tuban
See my complete profile
Catagories
Previous Post
Archives
Messages
Powered by

BLOGGER

Add to Technorati Favorites

Links
Bagi temen yang mau alamat blog/friendsternya ditampilin disini bisa kirim alamat blog atau email friendster beserta nama lengkap+kelas terakhir+tahun keluar ke ShoutBox blog ini, email (smuda_tuban@yahoo.co.id) atau comment di friendster smada.